//

FENOMENA KERAMAT LUAR BATANG YANG MESTI DIJAGA


Pendeta Adolf Heuken SJ menulis dalam Bukunya bahwa belanda voc memberi tanah luar batang taun 1799 setelah kewafatan agar dipelihara dengan baik kepada RA Fatahillah dan keturunanya, dulu Masjid Luar Batang terletak di sebelah utara tembok kota lama, lokasi tersebut sesudah pertengahan abad ke 17 diuruk, dan mulai dihuni orang orang Cirebon pada tahun 1730.

Mereka bertugas membersihkan mulut kali Ciliwung dari lumpur, supaya kapal bisa sampai ke Pasar Ikan yang letaknya tidak Jauh dari Masjid Luar Batang. 

Disamping Masjid Luar Batang terdapat Makam Al-Habib Husein bin Abubakar Al-Aydrus, gema ketokohan Habib Husein tak bisa di ingkari, Luar biasa.

Dalam buku L.W.C. Van den Berg pada tahun 1886 menunjukan betapa populernya Habib Husein, ia menuliskan dalam bukunya :

"Tidak hanya golongan Pribumi, tapi juga orang Cina campuran dan kaum Indo ber Ziarah memohon kepada Tuhan mereka, dengan mengambil berkah (Tawassul) kepadanya untuk memohon keberhasilan dalam Usaha dan urusannya masing-masing."

Penjualan di sekitar daerah Masjid Kramat Luar Batang saat itu mencapai 8.000 Gulden setahun.
Dan pernah kami tuliskan dalam tulisan kami sebelumnya di bulan Ramadhan yang lalu, bahwa nama Luar Batang merupakan Kampung Baru, yang karna Habib Husein meminta kepada pemerintah Belanda yang Pada waktu itu sangat ingin memberikan hadiah pada Habib karna ingin berterimakasih kepada beliau, dan Gubernur Belanda itu menawarkan tanah-tanah yang lainnya, lalu Habib mengatakan :

"Bila ingin menghadiahkannya cukup menghadiahkan Tanah yang di tancapi batang batang pohon itu saja."

karna memang tanah tersebut merupakan tempat Laut pasang dan setelah itu Masyhur adanya Kampung Baru Luar Batang, lebih lebih ketokohan Al-Habib Husein bin Abubakar Al-Aydrus yang merupakan Ulama dan Auliya illah yang memiliki Dzuhuril Karomah, dan banyak kalangan Auliya Illah menyatakan bahwa :

"Al-Habib Husein adalah Qutbul Aqthob ( Pimpinan Para Auliya Illah ) saat itu.

Al-Habib Husein bin Abubakar Al-Aydrus wafat di Bulan Rhomadhon tahun 1169 berbetulan 24 Juni 1756 M, dan dulu banyak masyarakat Betawi meminta kepada Mufti Batavia yaitu Al-Habib Ustman bin Yahya (Sayyid Utsman Betawi pengarang Kitab Sifat 20) untuk mengadakan Houl Al-Habib Husein Luar Batang di Bulan Rhomadhon, tapi Habib Ustman bilang kepada seluruh Masyarakat pada waktu itu :

"Jangan di Bulan puasa .... Kasihan yang jauh jauh, baiknya nanti di waktu Lebaran sekalian berlebaran satu sama lain"

Dan di sepakati Houl diadakan pada hari Ahad ke Tiga bulan Syawal, hal tersebut setelah wafatnya Habib Ustman, dan di teruskan oleh Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi dari kampung Kwitang.

Dulu Habib Ali bila ingin menghadiri Houl Habib Husein Luar Batang setelah mengajar terlebih dulu di Majlisnya di Kwitang dengan mempercepat waktu dari biasa mengajar di Majlisnya, dan pada waktu itu peringatan Houl menunggu rombongannya Habib Ali Kwitang, hal kebiasaan tersebut di teruskan oleh Habib Muhammad (anak beliau) dan juga hingga saat ini, hanya bedanya, acara tidak lagi menunggu rombongan dari Kwitang mengingat meningkatnya Jamaah yang datang dari tempat yang Jauh-jauh.

Semua Al-Habaib Jakarta dan sekitarnya juga yang datang dari dalam serta luar Negri, bila datang ke Jakarta akan menyempatkan Ziarah ke Luar Batang, karna Al-Habib Ali bin Husein Al-Athos mengatakan :

"Al-Habib Husein bin Abu Bakar Al-Aydrus merupakan Pintu gerbangnya Kota Jakarta"

AlHabib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang mengatakan :

"Al-Habib Husein Luar Batang adalah Pakunya Tanah Betawi"

AlHabib Sholeh bin Muchsin Al-Hamid Tanggul mengatakan :

"Siapa yang berziaroh ke Habibana Husein segala Urusannya Qabul, Habib Husein adalah Sulthonnya Para Auliya"

abdkadiralhamid@2016

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "FENOMENA KERAMAT LUAR BATANG YANG MESTI DIJAGA"

Post a Comment

Silahkan komentar yg positip